Jumat, 30 Juli 2010
Contoh outline (1)
Topik: Peraturan tentang tenaga kerja yang berhubungan dengan gaji, uang lembur, pesangon dan pensiun.
I. Definisi Ketenagakerjaan
II. Hubungan Kerja
A. Syarat Perjanjian Kerja
B. Jenis Perjanjian Kerja
III. Perlindungan, Pengupahan, dan Kesejahteraan
A. Perlindungan
B. Pengupahan
C. Kesejahteraan
IV. Hubungan Industrial
A. Serikat Pekerja
B. Organisasi Pengusaha
C. Lembaga Bipartit dan Tripartit
D. Peraturan Perusahaan dan Perjanjian Kerja Bersama
V. Perselisihan Industrial
A. Mogok Kerja
B. Lock Out
VI. PHK
A. Pengertian PHK
B. Jenis-jenis PHK
VII. Sanksi
A. Pidana
B. Administratif
Dalam buku hukum dan buku-buku yang lain, dapat pula disertakan lampiran sebagai data pendukung dari isi buku.
Selasa, 27 Juli 2010
Mengapa Non Fiksi?
1. Tema yang sangat spesifik.
Saat ini, saya menulis non fiksi jenis how to. Buku jenis ini memang lagi tren sehingga disukai penerbit. Tema how to biasanya sangat praktis. Contoh judul how to:
- Panduan membuat bla bla bla
- Cara cepat belajar bla bla bla
- 30 hari mahir bla bla bla
Bla bla bla bisa kita isi dengan blog, excel, word, masakan jawa, masakan serba pedas, adobe, memelihara lele, memasak dalam 30 menit dan seterusnya...
2. Saingan tidak terlalu banyak
Secara teori, novel bisa dibuat oleh anak SD hingga aki-aki berumur 70 tahun. Penerbit Mizan mempunyai divisi Kecil Kecil Punya Karya dimana adik-adik kecil kita sudah pinter bikin novel dan diterbitkan.
Karya non fiksi mempunyai jumlah saingan yang lebih sedikit
Saya menulis tentang Hukum Tenaga Kerja.
Saingan saya adalah dosen hukum, praktisi tenaga kerja, HRD
3. Jumlah penulis non fiksi masih sedikit
Alasan ini sebenarnya masih berkaitan dengan alasan nomor 2. Banyak penerbit yang mencari naskah non fiksi. Mengapa? Sebab jumlah naskah fiksi sangat banyak, sedangkan naskah non-fiksi tidak begitu banyak. Mengapa naskah non fiksi sangat sedikit?
Saya memberi gambaran tentang buku saya. Di kampus saya,
Taruhlah 300
Diantara 150 saingan, yang hobi menulis 50%. Berarti saingan kita tinggal 75 orang.
Diantara 75 orang, yang benar-benar minat dalam dunia tulis menulis adalah 50%, berarti saingan kita tinggal 36 orang.
Diantara 36 orang, yang pernah menulis suatu naskah non fiksi tentang tenaga kerja ada 50%, berarti saingan tinggal 18.
Diantara 18 orang, yang naskahnya benar-benar jadi ada 50%, sehingga saingan kita tinggal 9 orang.
Dan dari 9 orang itu, siapakah yang berpikir untuk mengirim naskahnya ke penerbit?
Mungkin hanya ada 1 atau 2 orang. Dan kebetulan orang itu adalah saya.